BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Kewibawaan atau gezag bertujuan untuk
membawa anak ke arah kekedewasaan.Secara
berangsur-angsur anak dapat mengenal nilai-nilai hidup atau norma-norma
dan menyesuaikan diri dengan norma-norma itu
dalam hidupnya.Syarat mutlak dalam pendidikan
ialah adanya kewibawaan
pada pendidik.
Tanpa kewibawaan
itu, pendidikan
tidak berhasil baik.Tetapi harus diingat, bahwa anak didik bukan saja dengan hak,
melainkan dengan kewajiban, membawa dirinya ke satu tingkatan untuk dapat
berdiri sendiri, jadi anak menurut bukan karena diri pendidik,
melainkan karena norma-norma dan
nilai-nilai
dalam pribadipendidik.
Gezag atau kewibawaan itu ada
pada orang dewasa, terutama
pada orang tua. Dapat kita katakan bahwa kewibawaan yang ada
pada orang tua (ayah dan ibu) itu adalah asli. Orang tua dapat langsung
mendapat tugas dari Tuhan untuk mendidik anak-anaknya, suatu hak yang tidak
dapat dicabut karena terikat oleh kewajiban. Hak dan
kewajiban yang ada pada orang tua itu keduanya tidak dapat dipisah-pisahkan. Gezag merupakan syarat
yang harus ada pada pendidik dan karena pendidikan untuk
membawa anak didik kepada kekedewasaan, maka kewibawaan itu
termasuk alat pendidikan.
Dengan
meningkatkan kualitas pendidikan maka akan tercipta kesatuan utuh dalam rencana
dan gerak langkah pembangunan bangsa di masa depan. Sebab, kualitas pendidikan
sangat menentukan kualitas sumber daya manusia suatu bangsa. Kualitas
pendidikan bersandar pada segenap aspek yang terdapat dalam diri manusia atau
warga negara. Dan yang penting disadari ialah bahwa pendidikan merupakan sebuah
proses, sesuatu yang terus diperjuangkan perbaikan dan kemajuannya. Meminjam
ungkapan Mendiknas, pendidikan Indonesia adalah sebuah proses pembentukan
manusia Indonesia seutuhnya, yang setidaknya akan termanifestasikan dalam tiga
hal, penguasaan iptek (ilmu pengetahuan dan ).
Berbicara
tentang pendidikan, kita tidak bisa lepas dari pada tenaga pendidik itu sendiri.
Agar bisa menjadi tenaga pendidik yang baik dan profesional. Di samping
mempunyai atau memiliki ilmu dan seni dalam mendidik, seorang pendidik itu
harus memiliki wibawa (gezag). Di dalam makalah ini penulis akan membahas
tentang wibawa di dalam pendidikan.
B. Rumusan
Masalah
Adapun rumusan masalah yakni sebagai berikut :
1. Apa
Definisi Kewibawaan?
2. Apa
Fungsi Kewibawaan?
3. Apa
Pengertian Kewibawaan dalam Pendidikan?
4. Apa
Fungsi Kewibawaan dalam Pendidikan?
C. Tujuan
Adapun tujuan masalah yakni sebagai berikut :
1. Untuk
Mengetahui Definisi Kewibawaan
2. Untuk
Mengetahui Fungsi Kewibawaan
3. Untuk
Mengetahui Pengertian Kewibawaan dalam Pendidikan
4. Untuk
Mengetahui Fungsi Kewibawaan dalam Pendidikan
BAB II
PEMBAHASAN
A. Definisi
Kewibawaan
Kebiwaan (Gezag) dalam
pendidikan merupakan pengakuan dan penerimaan secara sukarela terhadap pengaruh
atau anjuran yang datang dari orang lain, jadi pengakuan dan penerimaan
pengaruh atau anjuran itu adalah atas dasar keikhlasan, atas dasar kepercayaan
yang penuh, bukan didasarkan rasa terpaksa serta rasa takut akan sesuatu. Gezag dikatakan
sebagai syarat mutlak dalam pelaksanaan pendidikan karena gezag merupakan
syarat yang tidak boleh ditawar-tawar lagi, syarat yang tidak boleh tidak ada.
Oleh karena apabila pengakuan dan penerimaan anjuran-anjuran dari pendidik itu tidak
berdasarkan adanya kewibawaan dalam pendidikan, jadi anak
menuruti anjuran-anjuran itu hanya berdasarkan rasa takut akan sesuatu,
berdasarkan akan rasa terpaksa, sehingga akhirnya anak tidak menyadari akan
makna dan pentingnya anjuran-anjuran itu, maka sulitlah baginya untuk dapat
berdiri sendiri, untuk mencapai tingkat kedewasaan. Sebab
berdiri sendiri berarti mampu untuk berbuat atas pilihannya sendiri, ditentukan
sendiri, dan diputuskan sendiri.
Langeveld menyatakan bahwa pendidikan yang
sungguh-sungguh baru dapat diberikan setelah anak itu mengenal akan kewibawaan, kira-kira
anak berumur tiga tahun. Sebelum umur tiga tahun anak seperti diberi semacam
paksaan atau dressuur, tetapi paksaan yang diberikan kepada anak yang masih
sangat kecil itu ditujukan kepada kekedewasaan anak, maka
paksaan yang diberikan kepada anak yang masih kecil sekali itu disebut pendidikan pendahuluan,
bukan dressuur.
Seperti kewibawaan pemimpin organisasi, baik
oganisasi politik atau organisasi masa, kewibawaan kepala
kantor atau kepala sekolah. Kewibawaan tersebut
karena jabatan atau kekuasaan.
Seperti anak yang mengikuti anjuran pada saat ada sipengajar. Anak
memandang norma-norma yang
disampaikan menyatu dengan yang menyampaikan. Norma-norma itu dianggap
berlaku apabila pribadi yang menyampaikan ada dan berwibawa, sedangkan
apabila pribadi yang menyampaikan itu tidak ada atau tidak berwibawa maka norma itu dianggap
tidak berlaku lagi.
Seperti anak mengikuti anjuran
sipenganjur karena kesadaran, baik ada maupun tidak ada sipenganjur karena
adanya kesadaran, anak memandang norma itu memang
patut dan wajib dipatuhi dan ditaati. Seorang pendidik harus
berusaha menimbulkan kewibawaan yang aktif
pada diri anak, karena kewibawaan yang aktif
inilah yang merupakan kewibawaan yang
sebenarnya, sedang kewibawaan yang pasif
adalah kewibawaan yang semu.
Sesudah ada pengakuan kewibawaan dari anak
terhadap pendidik, maka
kewajibanpendidik adalah
menggunakan kewibawaan itu untuk
membawa anak didik kearah cita-cita pendidikan.Kewajiban
selanjutnya bagi pendidik yang
mempunyai wibawa adalah
menjaga atau memelihara adalah pengakuan kewibawaan sianak didik
terhadap pendidik tersebut
d.
Hendaknya kewibawaan digunakan
dalam suasana pergaulan antara pendidik dan anak
didik, karena dengan pergaulan maka proses pendidikan bisa
berjalan lancar.
Kewibawaan lahir adalah
kewibawaan yang timbul
karena kesan-kesan lahiriah seseorang, seperti : bentuk tubuh yang tinggi
besar, pakaian lengkap dan rapi, tulisan yang bagus, suara yang keras dan
jelas, akan menimbulkan kewibawaan lahir.
a)
Adanya rasa cinta : Kewibawaan itu dapat
dimiliki oleh seseorang, apabila hidupnya penuh kecintaan dengan atau kepada
orang lain.
b)
Adanya rasa demi kamu : Demi kamu
atau you attitude yaitu sikap yang dapat dilukiskan sebagai suatu
tindakan, perintah atau anjuran bukan untuk kepentingan orang yang
memerintah, tetapi untuk kepentingan orang yang diperintah, menganjurkan demi
orang yang menerima anjuran, melarang juga demi orang yang dilarang.
c)
Adanya kelebihan batin : Seorang
guru yang menguasai bidang studi yang menjadi tanggung jawabnya, bisa berlaku
adil dan obyektif, bijaksana, merupakan contoh-contoh yang dapat menimbulkan kewibawaan batin.
d)
Adanya ketaatan terhadap norma : Menunjukan
bahwa dalam tingkah lakunya dia sebagai pendukung norma yang
sungguh-sungguh, selalu menepati janji yang pernah dibuat, disiplin dalam
hal-hal yang telah digariskan.
2. Membantu
anak menjadi orang yang kelak dapat dan sanggup memenuhi tugas hidupnya dengan
berdiri sendiri.
3. Membawa
anak kearah pertumbuhan yang kemudian dengan sendirinya mengakui wibawa orang
lain dan mau menjalankannya juga.
4. Anak
akan mengerti bahasa untuk
menerima petunjuk-petunjuk tentang apa yang diperbolehkan dan apa yang tidak
diperbolehkan oleh pendidik.
7. Perputaran
masyarakat menjadi back.
8. Anak-anak
akan berkembang jasmani dan rohaninya.
C. Kewibawaan
dalam Pendidikan
1.
Pelaksanaan kewibawaan dalam
pendidikan itu harus bersandarkan perwujudan
norma-norma dalam diri pendidik sendiri. Justru karena wibawa itu mempunyai
tujuan untuk membawa anak ke tingkat kedewasaannya, yaitu mengenal dan hidup
yang sesuai dengan norma-norma, maka menjadi syaratlah bahwa pendidik memberi
contoh dengan jalan menyesuaikan dirinya dengan norma-norma itu sendiri. Tidak
ada seorang pun yang lebih banyak kewibawaannya daripada mereka yang mewujudkan
kewibawaan itu dalam dirinya sendiri.
2.
Dalam
pendidikan, pertama-tama yang kita tuju ialah bahwa anak dengan sepenuh
kepercayaannya menyerahkan dirinya kepada pendidiknya (orang tuanya), dan
dengan demikian mencapai peyesuaian batin. Bila tidak, kita tidak akan dapat
mencapai tingkatan di atas dresur, yang berarti anak hanya mengerjakan apa yang
diperintahkan saja, dan kita tidak dapat mencapai: anak itu mengenal
nilai-nilai, dan dengan keyakinan hidup menyesuaikan diri dengan nilai-nilai
itu.
3.
Wibawa dan pelaksanaan wibawa
dalam masyarakat tetap, akan tetapi dalam pendidikan akan selalu menjadi
berkurang, dan akhirnya selesai bila telah tercapai tingkat kedewasaan. Ini
tidak berarti bahwa anak (yang telah dewasa itu) tidak lagiperlu mengakui
adanya kewibawaan; sebaliknya dengan kesukarelaan dan keikhlasan sendirilah
anak mengakui adanya wibawa negara, Tuhan, dan berusaha hidup sesuai dengan
kewibawaan itu. Itulah arti “kedewasaan” yang tepat. (Ngalim Purwanto, 2000 :
57).
Kewibawaan guru atau bagi para pendidik lainnya (bukan
orang tua) menerima jabatannya sebagai pendidik bukan kodrat (dari Tuhan),
melainkan dari Pemerintah. Ditetapkan dan diberi kekuasaan sebagai pendidik
oleh negara atau masyarakat. Maka dari itu kewibawaan yang ada padanya pun
berlainan dengan kewibawaan orang tua. Kewibawaan guru atau pendidik lainnya
memiliki dua sifat:
1.
Kewibawaan
Pendidikan
Guru
atau pendidik yang karena jabatanatau berkenaan dengan jabatannya sebagai
pendidik telah diserahi sebagaian dari tugas orang tua untuk mendidik
anak-anak. Selain itu, guru atau pendidik karena jabatannya menerima
kewibawaannya sebagian lagi dari pemerintah yang mengangkat mereka. Kewibawaan
pendidik yang ada pada guru ini terbatas oleh banyaknya anak-anak yang
diserahkan kepadanya, dan setiap tahun berganti murid.
2.
Kewibawaan
memerintah
Selain
kewibawaan pendidikan, guru atau pendidik karena jabatan juga mempunyai
kewibawaan memerinta.mereka telah diberi kekuasaan oleh pemerintah atau
instansi yang mengangkat mereka. Kekuasaan tersebut meliputi pimpinan kelas,
disananlah anak-anak telah diserahkan kepadanya. Bagi kepala sekolah kewibawaan
ini lebih luas, meliputi pimpinan sekolahannya.
D.
Fungsi Kewibawaan
dalam Pendidikan.
Pendidikan
itu terdapat dalam pergaulan antara orang dewasa dengan anak-anak. Sebab
pergaulan antara orang dewasa sesamanya, orang menerima dan bertanggung jawab
sendiri terhadap pengaruh-pengaruh pergaulan itu.
Demikian pula pergaulan antara anak-anak dengan anak-anak biarpun sering kali seorang anak menguasai dan dituruti oleh anak-anak lainnya tetapi kekuasaan atau gezag yang terdapat pada anak itu tidak bersifat gezag pendidikan, karena kekuasaan itu tidak tertuju kepada tujuan pendidikan. Dalam pergaulan baru terdapat pendidikan jika di dalamnya telah terdapat kepatuhan dari anak, yaitu bersikap menuruti atau mengikuti wibawa yang ada pada orang lain; mau menjalankan suruhannya dengan sadar. Tetapi tidak semua pergaulan antara orang dewasa dengan anak-anak merupakan pendidikan; ada pula pergaulan semacam itu yang mempunyai pengaruh-pengaruh jahat atau pergaulan yang netral saja.
Demikian pula pergaulan antara anak-anak dengan anak-anak biarpun sering kali seorang anak menguasai dan dituruti oleh anak-anak lainnya tetapi kekuasaan atau gezag yang terdapat pada anak itu tidak bersifat gezag pendidikan, karena kekuasaan itu tidak tertuju kepada tujuan pendidikan. Dalam pergaulan baru terdapat pendidikan jika di dalamnya telah terdapat kepatuhan dari anak, yaitu bersikap menuruti atau mengikuti wibawa yang ada pada orang lain; mau menjalankan suruhannya dengan sadar. Tetapi tidak semua pergaulan antara orang dewasa dengan anak-anak merupakan pendidikan; ada pula pergaulan semacam itu yang mempunyai pengaruh-pengaruh jahat atau pergaulan yang netral saja.
Satu-satunya
pengaruh yang dapat dinamakan pendidikan ialah pengaruh yang menuju ke kedewasaan
anak: untuk menolong anak menjadi orang yang kelak dapat atau sanggup memenuhi
tugas hidupnya dengan berdiri sendiri.
Tidak setiap macam tunduk menurut terhadap orang lain (seperti menurut perintah-perintah anak lain) dapat dikatakan “tunduk terhadap wibawa pendidikan”. Bagaimana sikap anak terhadap kewibawaan pendidik? Dalam hal ini Langeveld menjelaskan dengan dua buah kata :
Tidak setiap macam tunduk menurut terhadap orang lain (seperti menurut perintah-perintah anak lain) dapat dikatakan “tunduk terhadap wibawa pendidikan”. Bagaimana sikap anak terhadap kewibawaan pendidik? Dalam hal ini Langeveld menjelaskan dengan dua buah kata :
a.
Sikap menurut
atau mengikut (volagen), yaitu mengakui kekuasaan orang lain yang lebih besar
karena paksaan, takut, jadi bukan tunduk atau menuruti yang sebenarnya.
b.
Sikap tunduk
atau patuh yaitu dengan sadar mengikuti kewibawaan, artinya mengakui hak pada
orang lain untuk memerintah dirinya, dan dirinya merasa sendiri terikat akan
memenuhi perintah itu. Dalam hal yang terakhir inilah tampak fungsi wibawa
pendidikan, yaitu membawa anak ke arah pertumbuhannya yang kemudian dengan
sendirinya mengakui wibawa orang lain dan mau menjalankannya. (Athiyah
Alabrasy, 2001 : 55)
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Kebiwaan (Gezag) dalam
pendidikan merupakan pengakuan dan penerimaan secara sukarela terhadap pengaruh
atau anjuran yang datang dari orang lain, jadi pengakuan dan penerimaan
pengaruh atau anjuran itu adalah atas dasar keikhlasan, atas dasar kepercayaan
yang penuh, bukan didasarkan rasa terpaksa serta rasa takut akan sesuatu.
Kewibawaan dalam kehidupan
memiliki beberapa macam sesuai hal yang dilakukannya seperti, dalam hal
menjalani kedudukan yang dimiliki dan adanya kelebihan atau keunggulan yang
dimilikinya. Pengakuan terhadap kewibawaan terdapat dua tingkat yakni tingkat
kewibawaan yang pasif dan aktif. Di dalam melalukan suatu kewibawaan juga
memiliki fungsi yang baik dalam pendidikan.
Kewibawaan dalam dunia
pendidikan bertujuan agar anak lebih mengenal nilai-nilai dan keyakinan hidup
menyesuaikan diri dengan nilai, dengan bersandarkan perwujudan norma-norma
dalam diri pendidik sendiri. Adanya sikap kewibawaan yang dimiliki seorang
pendidik dapat menjadikan peserta didik memiliki sikap menurut atau mengikut
(volagen) serta sikap tunduk dan patuh secara sadar dilakukan oleh siswa bukan
karena sebuah paksaan.
B. Saran
Saran yang dapat
diberikan kepada para pembaca makalah ini yakni:
1. Sebagai seorang yang memiliki kedudukan dalam pekerjaannya sikap
kewibawaan harus dimilikinya sebagai suatu hal yang mampu membuat orang lain
akan segan terhadapnya.
2. Pembaca mampu menjadikan sifat kewibawaan dalam pendidikan yang harus
dimiliki oleh seorang pendidik bukan sifat yang akan menjadikan siswa takut
namun menurut, tunduk dan patuh yang dilakukan secara sadar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar