Jumat, 17 April 2015

Kewibawaan dalam Pendidikan



BAB I
PENDAHULUAN
A.  Latar Belakang
Kewibawaan  atau gezag bertujuan untuk membawa anak ke arah kekedewasaan.Secara berangsur-angsur anak dapat mengenal nilai-nilai hidup atau norma-norma dan menyesuaikan diri dengan norma-norma itu dalam hidupnya.Syarat mutlak dalam pendidikan ialah adanya kewibawaan pada pendidik. Tanpa kewibawaan itu, pendidikan tidak berhasil baik.Tetapi harus diingat, bahwa anak didik bukan saja dengan hak, melainkan dengan kewajiban, membawa dirinya ke satu tingkatan untuk dapat berdiri sendiri, jadi anak menurut bukan karena diri pendidik, melainkan karena norma-norma dan nilai-nilai dalam pribadipendidik.
Gezag atau kewibawaan itu ada pada orang dewasa, terutama pada orang tua. Dapat kita katakan bahwa kewibawaan yang ada pada orang tua (ayah dan ibu) itu adalah asli. Orang tua dapat langsung mendapat tugas dari Tuhan untuk mendidik anak-anaknya, suatu hak yang tidak dapat dicabut karena terikat oleh kewajiban. Hak dan kewajiban yang ada pada orang tua itu keduanya tidak dapat dipisah-pisahkan. Gezag merupakan syarat yang harus ada pada pendidik dan karena pendidikan untuk membawa anak didik kepada kekedewasaan, maka kewibawaan itu termasuk alat pendidikan.
Dengan meningkatkan kualitas pendidikan maka akan tercipta kesatuan utuh dalam rencana dan gerak langkah pembangunan bangsa di masa depan. Sebab, kualitas pendidikan sangat menentukan kualitas sumber daya manusia suatu bangsa. Kualitas pendidikan bersandar pada segenap aspek yang terdapat dalam diri manusia atau warga negara. Dan yang penting disadari ialah bahwa pendidikan merupakan sebuah proses, sesuatu yang terus diperjuangkan perbaikan dan kemajuannya. Meminjam ungkapan Mendiknas, pendidikan Indonesia adalah sebuah proses pembentukan manusia Indonesia seutuhnya, yang setidaknya akan termanifestasikan dalam tiga hal, penguasaan iptek (ilmu pengetahuan dan ).
Berbicara tentang pendidikan, kita tidak bisa lepas dari pada tenaga pendidik itu sendiri. Agar bisa menjadi tenaga pendidik yang baik dan profesional. Di samping mempunyai atau memiliki ilmu dan seni dalam mendidik, seorang pendidik itu harus memiliki wibawa (gezag). Di dalam makalah ini penulis akan membahas tentang wibawa di dalam pendidikan.
B.       Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah yakni sebagai berikut :
1.      Apa Definisi Kewibawaan?
2.      Apa Fungsi Kewibawaan?
3.      Apa Pengertian Kewibawaan dalam Pendidikan?
4.      Apa Fungsi Kewibawaan dalam Pendidikan?

C.     Tujuan
Adapun tujuan masalah yakni sebagai berikut :
1.      Untuk Mengetahui Definisi Kewibawaan
2.      Untuk Mengetahui Fungsi Kewibawaan
3.      Untuk Mengetahui Pengertian Kewibawaan dalam Pendidikan
4.      Untuk Mengetahui Fungsi Kewibawaan dalam Pendidikan
BAB II
PEMBAHASAN

A.      Definisi Kewibawaan
Kebiwaan (Gezag) dalam pendidikan merupakan pengakuan dan penerimaan secara sukarela terhadap pengaruh atau anjuran yang datang dari orang lain, jadi pengakuan dan penerimaan pengaruh atau anjuran itu adalah atas dasar keikhlasan, atas dasar kepercayaan yang penuh, bukan didasarkan rasa terpaksa serta rasa takut akan sesuatu. Gezag dikatakan sebagai syarat mutlak dalam pelaksanaan pendidikan karena gezag merupakan syarat yang tidak boleh ditawar-tawar lagi, syarat yang tidak boleh tidak ada. Oleh karena apabila pengakuan dan penerimaan anjuran-anjuran dari pendidik itu tidak berdasarkan adanya kewibawaan dalam pendidikan, jadi anak menuruti anjuran-anjuran itu hanya berdasarkan rasa takut akan sesuatu, berdasarkan akan rasa terpaksa, sehingga akhirnya anak tidak menyadari akan makna dan pentingnya anjuran-anjuran itu, maka sulitlah baginya untuk dapat berdiri sendiri, untuk mencapai tingkat kedewasaan. Sebab berdiri sendiri berarti mampu untuk berbuat atas pilihannya sendiri, ditentukan sendiri, dan diputuskan sendiri.
Langeveld  menyatakan bahwa pendidikan yang sungguh-sungguh baru dapat diberikan setelah anak itu mengenal akan kewibawaan, kira-kira anak berumur tiga tahun. Sebelum umur tiga tahun anak seperti diberi semacam paksaan atau dressuur, tetapi paksaan yang diberikan kepada anak yang masih sangat kecil itu ditujukan kepada kekedewasaan anak, maka paksaan yang diberikan kepada anak yang  masih kecil sekali itu disebut pendidikan pendahuluan, bukan dressuur.
1.      Macam-macam  kewibawaan dalam kehidupan.
a.    Kewibawaan pemimpin/ kepala.
Seperti kewibawaan pemimpin organisasi, baik oganisasi politik atau organisasi masa, kewibawaan kepala kantor atau kepala sekolah. Kewibawaan tersebut karena jabatan atau kekuasaan.
b.    Kewibawaan keistimewaan.
Seperti kewibawaan seseorang mempunyai kelebihan atau keunggulan dibidang tertentu.
2.    Tingkat pengakuan terhadap kewibawaan ada dua tingkat, yaitu :
a.    Pengakuan kewibawaan yang pasif
Seperti anak yang mengikuti anjuran pada saat ada sipengajar. Anak memandang norma-norma yang disampaikan menyatu dengan yang menyampaikan. Norma-norma itu dianggap berlaku apabila pribadi yang menyampaikan ada dan berwibawa, sedangkan apabila pribadi yang menyampaikan itu tidak ada atau tidak berwibawa maka norma itu dianggap tidak berlaku lagi.
b.    Pengakuan kewibawaan yang aktif
Seperti anak mengikuti anjuran sipenganjur karena kesadaran, baik ada maupun tidak ada sipenganjur karena adanya kesadaran, anak memandang norma itu memang patut dan wajib dipatuhi dan ditaati. Seorang pendidik harus berusaha menimbulkan kewibawaan yang aktif pada diri anak, karena kewibawaan yang aktif inilah yang merupakan kewibawaan yang sebenarnya, sedang kewibawaan yang pasif adalah kewibawaan yang semu.
Sesudah ada pengakuan kewibawaan dari anak terhadap pendidik, maka kewajibanpendidik adalah menggunakan kewibawaan itu untuk membawa anak didik kearah cita-cita pendidikan.Kewajiban selanjutnya bagi pendidik yang mempunyai wibawa adalah menjaga atau memelihara adalah pengakuan kewibawaan sianak didik terhadap pendidik tersebut
3.  Adapun dalam menggunakan kewibawaan perlu memperhatikan hal-hal berikut :
a.     Dalam menggunakan kewibawaan, hendaklah didasarkan atas perkembangan anak didik.
b.    Penerapan kewibawaan hendaknya didasarkan rasa cinta kasih sayang kepada anak didik.
c.    Hendaknya kewibawaan digunakan untuk kepentingan anak didik.
d.   Hendaknya kewibawaan digunakan dalam suasana pergaulan antara pendidik dan anak didik, karena dengan pergaulan maka proses pendidikan bisa berjalan lancar.

4.        Macam-macam kewibawaan ditinjau dari daya yang mempengaruhi.
a.       Kewibawaan lahir
Kewibawaan lahir adalah kewibawaan yang timbul karena kesan-kesan lahiriah seseorang, seperti : bentuk tubuh yang tinggi besar, pakaian lengkap dan rapi, tulisan yang bagus, suara yang keras dan jelas, akan menimbulkan kewibawaan lahir.
b.      Kewibawaan batin
Adalah kewibawaan yang didukung oleh keadaan batin seseorang seperti :
a)      Adanya rasa cinta : Kewibawaan itu dapat dimiliki oleh seseorang, apabila hidupnya penuh kecintaan dengan atau kepada orang lain.
b)      Adanya rasa demi kamu : Demi kamu atau you attitude yaitu sikap yang dapat dilukiskan sebagai suatu tindakan,  perintah atau anjuran bukan untuk kepentingan orang yang memerintah, tetapi untuk kepentingan orang yang diperintah, menganjurkan demi orang yang menerima anjuran, melarang juga demi orang yang dilarang.
c)      Adanya kelebihan batin : Seorang guru yang menguasai bidang studi yang menjadi tanggung jawabnya, bisa berlaku adil dan obyektif, bijaksana, merupakan contoh-contoh yang dapat menimbulkan kewibawaan batin.
d)     Adanya ketaatan terhadap norma : Menunjukan bahwa dalam tingkah lakunya dia sebagai pendukung norma yang sungguh-sungguh, selalu menepati janji yang pernah dibuat, disiplin dalam hal-hal yang telah digariskan.



B.     Fungsi Gezag
1.      Mempengaruhi anak untuk menuju kekedewasaan.
2.      Membantu anak menjadi orang yang kelak dapat dan sanggup memenuhi tugas hidupnya dengan berdiri sendiri.
3.      Membawa anak kearah pertumbuhan yang kemudian dengan sendirinya mengakui wibawa orang lain dan mau menjalankannya juga.
4.      Anak akan mengerti bahasa untuk menerima petunjuk-petunjuk tentang apa yang diperbolehkan dan apa yang tidak diperbolehkan oleh pendidik.
5.      Membuat sianak mendapatkan nilai-nilai dan norma-norma hidup.
6.      Pendidik dapat menjalankan kewajibannya atas dasar cinta.
7.      Perputaran masyarakat menjadi back.
8.      Anak-anak akan berkembang jasmani dan rohaninya.
9.      Keluarga dapat terpelihara dan selamat.

C.       Kewibawaan dalam Pendidikan
1.      Pelaksanaan kewibawaan dalam pendidikan itu harus bersandarkan perwujudan norma-norma dalam diri pendidik sendiri. Justru karena wibawa itu mempunyai tujuan untuk membawa anak ke tingkat kedewasaannya, yaitu mengenal dan hidup yang sesuai dengan norma-norma, maka menjadi syaratlah bahwa pendidik memberi contoh dengan jalan menyesuaikan dirinya dengan norma-norma itu sendiri. Tidak ada seorang pun yang lebih banyak kewibawaannya daripada mereka yang mewujudkan kewibawaan itu dalam dirinya sendiri.
2.      Dalam pendidikan, pertama-tama yang kita tuju ialah bahwa anak dengan sepenuh kepercayaannya menyerahkan dirinya kepada pendidiknya (orang tuanya), dan dengan demikian mencapai peyesuaian batin. Bila tidak, kita tidak akan dapat mencapai tingkatan di atas dresur, yang berarti anak hanya mengerjakan apa yang diperintahkan saja, dan kita tidak dapat mencapai: anak itu mengenal nilai-nilai, dan dengan keyakinan hidup menyesuaikan diri dengan nilai-nilai itu.
3.      Wibawa dan pelaksanaan wibawa dalam masyarakat tetap, akan tetapi dalam pendidikan akan selalu menjadi berkurang, dan akhirnya selesai bila telah tercapai tingkat kedewasaan. Ini tidak berarti bahwa anak (yang telah dewasa itu) tidak lagiperlu mengakui adanya kewibawaan; sebaliknya dengan kesukarelaan dan keikhlasan sendirilah anak mengakui adanya wibawa negara, Tuhan, dan berusaha hidup sesuai dengan kewibawaan itu. Itulah arti “kedewasaan” yang tepat. (Ngalim Purwanto, 2000 : 57).

Kewibawaan guru atau bagi para pendidik lainnya (bukan orang tua) menerima jabatannya sebagai pendidik bukan kodrat (dari Tuhan), melainkan dari Pemerintah. Ditetapkan dan diberi kekuasaan sebagai pendidik oleh negara atau masyarakat. Maka dari itu kewibawaan yang ada padanya pun berlainan dengan kewibawaan orang tua. Kewibawaan guru atau pendidik lainnya memiliki dua sifat:
1.      Kewibawaan Pendidikan
Guru atau pendidik yang karena jabatanatau berkenaan dengan jabatannya sebagai pendidik telah diserahi sebagaian dari tugas orang tua untuk mendidik anak-anak. Selain itu, guru atau pendidik karena jabatannya menerima kewibawaannya sebagian lagi dari pemerintah yang mengangkat mereka. Kewibawaan pendidik yang ada pada guru ini terbatas oleh banyaknya anak-anak yang diserahkan kepadanya, dan setiap tahun berganti murid.
2.      Kewibawaan memerintah
Selain kewibawaan pendidikan, guru atau pendidik karena jabatan juga mempunyai kewibawaan memerinta.mereka telah diberi kekuasaan oleh pemerintah atau instansi yang mengangkat mereka. Kekuasaan tersebut meliputi pimpinan kelas, disananlah anak-anak telah diserahkan kepadanya. Bagi kepala sekolah kewibawaan ini lebih luas, meliputi pimpinan sekolahannya.
D.    Fungsi Kewibawaan dalam Pendidikan.
Pendidikan itu terdapat dalam pergaulan antara orang dewasa dengan anak-anak. Sebab pergaulan antara orang dewasa sesamanya, orang menerima dan bertanggung jawab sendiri terhadap pengaruh-pengaruh pergaulan itu.
Demikian pula pergaulan antara anak-anak dengan anak-anak biarpun sering kali seorang anak menguasai dan dituruti oleh anak-anak lainnya tetapi kekuasaan atau gezag yang terdapat pada anak itu tidak bersifat gezag pendidikan, karena kekuasaan itu tidak tertuju kepada tujuan pendidikan. Dalam pergaulan baru terdapat pendidikan jika di dalamnya telah terdapat kepatuhan dari anak, yaitu bersikap menuruti atau mengikuti wibawa yang ada pada orang lain; mau menjalankan suruhannya dengan sadar. Tetapi tidak semua pergaulan antara orang dewasa dengan anak-anak merupakan pendidikan; ada pula pergaulan semacam itu yang mempunyai pengaruh-pengaruh jahat atau pergaulan yang netral saja.
Satu-satunya pengaruh yang dapat dinamakan pendidikan ialah pengaruh yang menuju ke kedewasaan anak: untuk menolong anak menjadi orang yang kelak dapat atau sanggup memenuhi tugas hidupnya dengan berdiri sendiri.
Tidak setiap macam tunduk menurut terhadap orang lain (seperti menurut perintah-perintah anak lain) dapat dikatakan “tunduk terhadap wibawa pendidikan”. Bagaimana sikap anak terhadap kewibawaan pendidik? Dalam hal ini Langeveld menjelaskan dengan dua buah kata :
a.       Sikap menurut atau mengikut (volagen), yaitu mengakui kekuasaan orang lain yang lebih besar karena paksaan, takut, jadi bukan tunduk atau menuruti yang sebenarnya.
b.      Sikap tunduk atau patuh yaitu dengan sadar mengikuti kewibawaan, artinya mengakui hak pada orang lain untuk memerintah dirinya, dan dirinya merasa sendiri terikat akan memenuhi perintah itu. Dalam hal yang terakhir inilah tampak fungsi wibawa pendidikan, yaitu membawa anak ke arah pertumbuhannya yang kemudian dengan sendirinya mengakui wibawa orang lain dan mau menjalankannya. (Athiyah Alabrasy, 2001 : 55)




BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Kebiwaan (Gezag) dalam pendidikan merupakan pengakuan dan penerimaan secara sukarela terhadap pengaruh atau anjuran yang datang dari orang lain, jadi pengakuan dan penerimaan pengaruh atau anjuran itu adalah atas dasar keikhlasan, atas dasar kepercayaan yang penuh, bukan didasarkan rasa terpaksa serta rasa takut akan sesuatu.
Kewibawaan dalam kehidupan memiliki beberapa macam sesuai hal yang dilakukannya seperti, dalam hal menjalani kedudukan yang dimiliki dan adanya kelebihan atau keunggulan yang dimilikinya. Pengakuan terhadap kewibawaan terdapat dua tingkat yakni tingkat kewibawaan yang pasif dan aktif. Di dalam melalukan suatu kewibawaan juga memiliki fungsi yang baik dalam pendidikan.
Kewibawaan dalam dunia pendidikan bertujuan agar anak lebih mengenal nilai-nilai dan keyakinan hidup menyesuaikan diri dengan nilai, dengan bersandarkan perwujudan norma-norma dalam diri pendidik sendiri. Adanya sikap kewibawaan yang dimiliki seorang pendidik dapat menjadikan peserta didik memiliki sikap menurut atau mengikut (volagen) serta sikap tunduk dan patuh secara sadar dilakukan oleh siswa bukan karena sebuah paksaan.

B.     Saran
Saran yang dapat diberikan kepada para pembaca makalah ini yakni:
1.      Sebagai seorang yang memiliki kedudukan dalam pekerjaannya sikap kewibawaan harus dimilikinya sebagai suatu hal yang mampu membuat orang lain akan segan terhadapnya.
2.      Pembaca mampu menjadikan sifat kewibawaan dalam pendidikan yang harus dimiliki oleh seorang pendidik bukan sifat yang akan menjadikan siswa takut namun menurut, tunduk dan patuh yang dilakukan secara sadar.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar