Jumat, 02 Januari 2015

LANDASAN SOSIAL DAN BUDAYA

BAB I
PENDAHULAN
A.     Latar Belakang Masalah
Manusia adalah makhluk hidup yang diberikan berbagai potensi oleh Tuhan, setidaknya manusia diberikan panca indera dalam hidupnya. Namun tentu saja potensi yang dimilikinya harus digunakan semaksimal mungkin sebagai bekal dalam menjalani hidupnya. Untuk memaksimalkan semua potensi yang dimiliki oleh kita sebagai manusia, tentunya harus ada sesuatu yang mengarahkan dan membimbingnya, supaya berjalan dan terarah sesuai dengan apa yang diharapkan.
Mengingat begitu besar dan berharganya potensi yang dimiliki manusia, maka manusia harus dibekali dengan pendidikan yang cukup sejak dini. Dilain pihak manusia juga memiliki kemampuan dan diberikan akal pikiran yang berbeda dengan makhluk yang lain. Sedangkan pendidikan itu adalah usaha yang disengaja dan terencana untuk membantu perkembangan potensi dan kemampuan manusia agar bermanfaat bagi kepentingan hidupnya.
Secara sosiologi pendidikan adalah sebuah warisan budaya dari generasi kegenerasi, agar kehidupan masyarakat berkelanjutan, dan identitas masyarakat itu tetap terpelihara. Sosial budaya merupakan bagian hidup manusia yang paling dekat dengan kehidupan sehari-hari, dan hampir setiap kegiatan manusia tidak terlepas dari unsur sosial budaya.
Memasuki abad ke-21 dan menyongsong milenium ketiga tentu akan terjadi banyak perubahan dalam kehidupan masyarakat sebagai akibat dari era globalisasi. Dan pada kenyataannya masyarakat mengalami perubahan sosial yang begitu cepat, maju dan memperlihatkan gejala disintegratif yang meliputi berbagai sendi kehidupan dan menjadi masalah, salah satunya dirasakan oleh dunia pendidikan. Tak hanya perubahan sosial, budaya pun berpengaruh besar dalam dunia pendidikan akibat dari pergeseran paradigma pendidikan yaitu mengubah cara hidup, berkomunikasi, berpikir, dan cara bagaimana mencapai kesejahteraan. Dengan mengetahui begitu pesatnya arus perkembangan dunia diharapkan dunia pendidikan dapat merespon hal-hal tersebut secara baik dan bijak.
B.     Rumusan Masalah
Dari rumusan masalah diatas yang bersifat umum, dapat dijabarkan beberapa pertanyaan sebagai berikut :
1.       Apa yang dimaksud dengan landasan sosial budaya?
2.      Sosiologi dan Pendidikan ?
3.      Kebudayaan dan Pendidikan ?
4.      Masyarakat Indonesia dan pendidikan ?
5.      Implikasi konsep pendidikan ?
C.     Tujuan
Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan landasan social budaya dan implikasinya dalam pelayanan konseling pada umumnya, khususnya dalam bimbingan dan konseling antar budaya.


BAB II
PEMBAHASAN
A.    PENGERTIAN SOSIOLOGI
Menurut etimologi sosiologi berasal dari bahasa Latin yaitu kata socious yang berarti teman, dan logos berasal dari bahasa Yunani yang berarti pengetahuan. Pengertian tersebut diperluas menjadi ilmu pengetahuan tentang pergaulan hidup manusia atau masyarakat.
Definisi sosiologi menurut para ahli :
1.    Menurut Roucek dan Warren sosiologi adalah ilmu yang mempelajari hubungan manusia dalam kelompok.
2. Selo Soemardjan dan Soelaiman Soemardi menyatakan bahwa sosiologi adalah ilmu yang mempelajari struktur sosial dan proses sosial, termasuk perubahan sosial. Struktur sosial adalah keseluruhan jalinan antara unsur-unsur sosial, lembaga-lembaga sosial, kelompok-kelompok sosial, dan lapisan-lapisan sosial.
3. August Comte berpendapat bahwa sosiologi adalah ilmu terutama mempelajari manusia sebagai makhluk yang mempunyai naluri untuk senantiasa hidup bersama dengan sesamanya.
B. PENGERTIAN BUDAYA
Kata budaya dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan sebagai pikiran, akal budi atau adat-istiadat. Secara tata bahasa, pengertian kebudayaan diturunkan dari kata budaya yang cenderung menunjuk pada pola pikir manusia. Kebudayaan sendiri diartikan sebagai segala hal yang berkaitan dengan akal atau pikiran manusia, sehingga dapat menunjuk pada pola pikir, perilaku serta karya fisik sekelompok manusia.
Menurut Taylor kebudayaan adalah totalitas yang kompleks yang mencakup pengetahuan, kepercayaan, seni, hukum, moral, adat dan kemampuan-kemampuan serta kebiasaan-kebiasaan yang diperoleh orang sebagai anggota masyarakat. Imran Hasan mengemukakan bahwa kebudayaan adalah keseluruhan hasil manusia hidup bermasyarakat berisi aksi-aksi terhadap dan oleh sesama manusia sebagai anggota masyarakat yang merupakan kepandaian, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat sitiadat dan nilai-nilai kepandaian. Sedangkan Kneller mengatakan kebudayaan adalah cara hidup yang telah dikembangkan oleh anggota-anggota masyarakat.
Kebudayaan yaitu “keseluruhan sistem gagasan, tindakan dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan belajar” (Koentjaraningrat, 1985). Terdapat tiga jenis wujud dari kebudayaan, ketiga wujud kebudayaan tersebut adalah:
1) Wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks dari ide-ide, gagasan-gagasan, nilai-nilai, norma-norma, peraturan-peraturan, dsb.
2) Wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks aktivitas kelakuan berpola dari manusia dalam masyarakat.
3) Wujud kebudayaan sebagai benda-benda hasil karya manusia.
C.   PENGERTIAN SOSIAL BUDAYA
Sosial budaya adalah struktur sosial dan pola budaya dalam suatu masyarakat. Landasan sosial budaya, mengacu pada hubungan antar individu, antar masyarakat dan individu secara alami, artinya aspek yang telah ada sejak manusia dilahirkan. Landasan sosial budaya pada pendidikan adalah peranan aspek sosial budaya pada pendidikan.
Sebagai makhluk sosial, manusia merupakan bagian dari sistem sosial masyarakat secara berkelompok membentuk budaya. Karena aspek sosial telah melekat pada diri individu, maka perlu dikembangkan dalam perjalanan hidup peserta didik  agar menjadi matang. Di samping tugas pendidikan mengembangkan aspek sosial, aspek itu sendiri sangat berperan dalam membantu anak dalam mengembangkan dirinya. Maka segi sosial ini perlu diperhatikan dalam proses pendidikan.
Landasan sosial-budaya merupakan landasan yang dapat memberikan pemahaman kepada konselor tentang dimensi kesosialan dan dimensi kebudayaan sebagai faktor yang mempengaruhi terhadap perilaku individu. Seorang individu pada dasarnya merupakan produk lingkungan sosial-budaya dimana ia hidup. Sejak lahirnya, ia sudah dididik dan dibelajarkan untuk mengembangkan pola-pola perilaku sejalan dengan tuntutan sosial-budaya yang ada di sekitarnya. Bab ini membahas landasan sosial budaya dalam pendidikan uraiannya diatas secara berturut-turut , seperti membahas tentang : Sosiologi dan pendidikan, Kebudayaan dan pendidikan, Masyarakat dan sekolah, Masyarakat indonesia dan pendidikan, dan implikasi konsep pendidikan.
A.    Sosiologi dan Pendidikan.
a)      Definisi sosiologi pendidikan
Ada sejumlah definisi tentang sosiologi, namun walaupun berbeda-beda bentuk kalimatnya, semuanya memiliki makna yang sama. Sosiologi adalah ilmu yang mempelajari hubungan antara manusia dalam kelompok dan struktur sosialnya. Jadi, sosiologi mempelajari bagaimana manusia itu berhubungan satu dengan yang lain dalam kelompoknya dan bagaimana susunan unit-unit masyarakat atau sosial disuatu wilayah serta kaitannya satu dengan yang lainnya. . Salah satu bagian sosiologi, yang dapat dipandang sebagai sosiologi khusus adalah sosiologi pendidikan.
Beberapa defenisi sosiologi pendidikan menurut beberapa ahli:
Menurut F.G. Robbins, sosiologi pendidikan adalah sosiologi khusus yang tugasnya menyelidiki struktur dan dinamika proses pendidikan. Struktur mengandung pengertian teori dan filsafat pendidikan, sistem kebudayaan, struktur kepribadian dan hubungan kesemuanya dengan tata sosial masyarakat.
Menurut H.P. Fairchild dalam bukunya ”Dictionary of Sociology” dikatakan bahwa sosiologi pendidikan adalah sosiologi yang diterapkan untuk memecahkan masalah-masalah pendidikan yang fundamental. Jadi ia tergolong applied sociology. Dari beberapa defenisi di atas, dapat disimpulkan bahwa sosiologi pendidikan adalah ilmu yang mempelajari seluruh aspek pendidikan, baik itu struktur, dinamika, masalah-masalah pendidikan, ataupun aspek-aspek lainnya secara mendalam melalui analisis atau pendekatan sosiologis.
a.       Sosiologi mempunyai ciri-ciri sebagai berikut :
a.       Empiris
Adalah ciri utama sosiologi sebagai ilmu. Sebab ia bersumber dan diciptakan dari kenyataan yang terjadi di lapangan, atau yang berdasarkan pada observasi dan logika.
b.      Teoritis
Adalah teori yang menunjukkan pernyataan secara logis untuk menjelaskan hubungan sebab akibat.
c.       Kumulatif
Adalah teori-teori yang berkomulasi mengarah kepada teori yang lebih baik, dan sebagai hasil bentukan yang didasarkan pada teori yang sudah ada.
d.      Nonetis
Adalah teori itu menceritakan apa adanya tentang masyarakat beserta individu-individu didalamnya, tidak menilai hal itu baik atau buruk.
Salah satu bagian sosiologi, yang dapat dipandang sebagai sosiologi khusus adalah sosiologi pendidikan. Sosiologi pendidikan ini membahas sosiologi yang terdapat pada pendidikan. Wiradji (1988) menulisi bahwa sosiologi pendidikan meliputi : (1) interaksi guru-siswa, (2) dinamika kelompok dikelas dan di organisasi intra sekolah, (3) struktur dan fungsi sistem pendidikan, (4) sistem-sistem masyarakat dan pengaruh terhadap pendidikan. Proses sosial dimulai dari interaksi sosial dan dalam proses sosial itu selalu terjadi interaksi sosial. Interaksi dan proses sosial didasari oleh faktor-faktor berikut :
a.       Imitasi : peniruan yang bersifat positif dan bisa pula bersifat negatif, kecenderungan meniru sikap, tindakan tingkah laku, atau  penampilan fisik seseorang.
b.      Sugesti : sikap, pandangan dan pendapat orang lain yang diterima tanpa berfikir ulang.
c.       Identifikasi :  keinginan dalam diri seseorang untuk menjadi sama persis dengan pihak lain, identifikasi mencoba menyamakan dirinya dengan orang lain baik secara sadar maupun dibawah sadar.
d.      Simpati : suatu proses ketika seseorang merasa tertarik kepada pihak lain berkaitan dengan perilaku atau menyeluruh.
Dalam proses Sosial terdapat interaksi sosial,yaitu suatu hubungan sosial yang dinamis.Interaksi sosial akan terjadi apabila memenuhi dua syarat sebabagai berikut:
Ø  Kontak sosial
Baik kontak sosial maupun komunikasi dapat menghasilkan interaksi sosial yang positif dan dapat pula negatif. Hal ini bergantung kepada hasil akhir dari interaksi sosial itu. Kontak sosial dapat berlangsung dalam tiga bentuk,yaitu:
·         Kontak antarindividu, misalnya anak dengan ibu rumah tangga, siswa dengan guru atau siswa dengan siswa disekolah
·         Kontak antara individu dengan kelompok atau sebaliknya. contoh: Seorang remaja ingin ikut perkumpulan sepak bola,dan seorang guru mengajar dikelas.
·         Kontak antarkelompok, misalnya: rapat orang tua siswa  dengan guru-guru.
Ø  Komunikasi
Adalah proses penyampaian pikiran dan perasaan seseorang kepada orang lain atau sekelompok orang.  Ada sejumlah alat yang dapat dipakai mengadakan komunikasi, yaitu melalui:
·         Secara langsung
Melalui pembicaraan, melalui mimik, dll
·         Secara tidak langsung
Melalui pelantara seperti:Hp, email, facebook, dll
b)      Bentuk-bentuk interaksi sosial, yaitu sebagai berikut:
1.      Proses asosiatif
Adalah jenis interaksi sosial yang mengarah pada persatuan dan dapat meningkatkan hubumgan solidaritas antarindividu atau kelompok. Berbagai jenis proses asosiatif sebagai berikut:
a.       Kerja Sama ( Coorperation ) Merupakan suatu usaha bersama antara perorangan atau kelompok untuk mencapai tujuan bersama.
·         Tawar-menawar ( bergaining), yaitu bentuk perjanjian mengenai pertukaran barang dan jasa antara dua pihak atau lebih.
·         Kooptasi (cooptation), yaitu bentuk kerja sama yang dilakukan denga jalan menyepakati pimpinan yang akan ditunjuk untuk mengendalikan jalan organisasi/kelompok.
·         Koalisi (coalition), yaitu kerja sama dua organisasi politik atau lebih untuk mencapai tujuan yang sama dengan cara bergabung menjadi satu.
·         Pantungan (joint venture), yaitu kerja sama dua badan usaha atau lebih untuk meraih keuntungan dalam bidang ekonomi.
b.     Akomodasi adalah interaksi sosial antara individu ddan kelompok dalam upaya menyelesaikan suatu pertentangan. Berbagai bentuk akomodasi sebagai berikut:
·         Koersi (coercion), yaitu bentuk akomodasi yang dilaksanakan dengan menggunakan tekanan (pemaksaan) sehingga salah satu pihak berada dalam keadaan lebih lemah dibanding pihak lawan.
·         Kompromi (compromise), yaitu persetujuan dengan jalan untuk mengurangi tuntutan.
·         Arbitrase (arbitration), yaitu suatu usaha penyelesaian sengketa dengan bantuan pihak ketiga yang dipilih oleh kedua belah pihak yang bersengketa. Biasanya melibatkan pihak berwajib untuk menyelesaikan masalah.
·         Mediasi (mediation), yaitu proses pengikutsertaan pihak ketiga sebagai  penasihat yang netral alam penyelesaian suatu perselisihan.
·         Konsiliasi (conciliation), yaitu usaha memperemukan keinginan pihak yang bersilisih untuk mencapai persetujuan melalui lembaga sosial untuk menyelesaikan perselisihan tersebut.
·         Toleransi, yaitu suatu sikap menghargai perbedaan dalam masyarakat.
·         Stalemate, yaitu keaadaan yang ditandai adanya kekuatan seimbang dari kedua pihak yang bertikai sehingga pertikaian terhenti pada titik tertentu.
c.    Asimilasi adalah proses peleburan dua atau lebih kebudayaan yang berbeda menjadi satu kebudayaan tunggal yang dirasakan sebagai kebudayaan bersama.
d.    Akulturasi  adalah proses penerimaan dan pengolahan unsur-unsur kebudayaan asing menjadi bagian dari kebudayaan suatu kelompok tanpa menghilangkan kepribadian ataupun ciri khas kebudayaan yang asli.
e.     Proses Disosiatif adalah interaksi sosial yang mengarah pada perpecahan. Bentuk proses disosiatif sebagai berikut:
1.   Persaingan/Kompetisi
Adalah suatu proses sosial yang dilakukan individu/kelompok untuk mencari keuntungan melalui bidang-bidang kehidupan tertentu.
2.   Kontraversi
Adalah usaha untuk merintangi atau menggagalkan tercapainya tujuan pihak lain.
3.   Pertentangan (Pertikaian/konflik)
Adalah suatu proses sosial ketika seseorang atau kelompok dengan sadar atau tidak sadar menentang pihak lain disertai ancaman atau kekerasan untuk mendapykan keinginan/tujuannya.
Kini mari kita lanjutkan dengan pembahasan tentang kelompok sosial. Sebagaimana kita ketahui bahwa manusia itu merupakan suatu individu dan sekaligus bagian dari masyarakat.sebagai suatu individu,ia merupakan suatu kesatuan yang utuh serta bersifat unik.kelompok sosial berarti himpunan sejumlah orang,paling sedikit dua orang, yang hidup bersama,karena cita-cita yang sama.Ada beberapa persyaratan untuk terjadinya kelompok sosial,yaitu:
1.      Setiap anggota memiliki kesadaran sebagai bagian dari kelompok.
2.      Ada interaksi atau hubungan timbal balik antara anggota.
3.      Mempunyai tujuan yang sama
4.      Membentuk norma yang mengatur ikatan kelompok
5.      Terjadi struktur dalam kelompok yang membentuk peranan dan status sebagai dasar kegiatan dalam kelompok.
Dalam dunia pendidikan kelompok sosial ini bisa berbentuk kelompok personalia, sekolah, kelompok         guru, kelompok siswa, kelompok kelas, subkelas, kelompok belajar dirumah dan sebagainya. kelompok sosial di bedakan menjadi dua kelompok yaitu:
Ø  Kelompok primer  akan terjadi manakala hubungan antar anggota yang cukup erat, kenal, dan akrab satu dengan yang lain. Contohnya: Didalam kelas dan kelompok belajar dirumah.
Ø  Kelompok sekunder ialah kelompok yang anggotanya cukup banyak sehingga sering mereka tidak kenal satu dengan yang lainnya,Contoh:Dosen-dosen suatu perguruan tinggi yang besar,dan beberapa organisasi profesi.
c)      Tujuan sosiologi pendidikan sebagai berikut :
1.      Sosiologi menunjukkan pentingnya kegiatan sosialisasi anak-anak dalam pendidikan.
2.      Memberikan bantuan dalam usaha menganalisis proses sosialisasi anak-anak.
3.      Kelompok sosial adalah lembaga-lembaga masyarakat dengan berbagai bentuknya,termasuk sekolah.
4.      Dinamika kelompok,yang sudah tentu berlaku juga dalam dunia pendidikan.
5.      Konsep-konsep untuk mengembangkan kelompok sosial dan lembaga-lembaga masyarakat.
6.      Nilai-nilai yang ada dimasyarakat serta keharusan sekolah untuk mengembangkan aspek itu pada diri anak-anak.
7.      Peranan pendidikan pada masyarakat.
8.      Dukungan masyarakat terhadap pendidikan.
Tujuan sosiologi pendidikan pada dasarnya untuk mempercepat dan meningkatkan pencapaian tujuan pendidikan secara keseluruhan. Karena itu, sosiologi pendidikan tidak akan keluar dari upaya-upaya agar pencapaian tujuan dan fungsi pendidikan tercapai menurut pendidikan itu sendiri. Secara universal tujuan dan fungsi pendidikan itu adalah memanusiakan manusia oleh manusia yang telah memanusia. Itulah sebabnya sistem pendidikan nasional menurut UUSPN No. 2 Tahun 1989 pasal 3 adalah “ untuk mengembangkan kemampuan serta meningkatkan mutu kehidupan dan martabat manusia Indonesia dalam rangka upaya mewujudkan tujaun nasional”. Menurut fungsi tersebut jelas sekali bahwa pendidikan diselenggarakan adalah:
1.      untuk mengembangkan kemampuan manusia Indonesia,
2.      meningkatkan mutu kehidupan manusia Indonesiam
3.      meningkatkan martabat manusia Indonesia
4.      mewujudkan tujuan nasional melalui manusia-manusia Indonesia. Oleh karena itu pendidikan diselenggarakan untuk manusia Indonesia sehingga manusia Indonesia tersebut memiliki kemampuan mengembangkan diri, meningkatkan mutu kehidupan, meninggikan martabat dalam rangka mencapai tujuan nasional.
d)       Ruang lingkup yang dipelajari oleh sosiologi  pendidikan meliputi empat bidang:
1.    Hubungan sistem pendidikan dengan aspek masyarakat lain.
2.    Hubungan kemanusiaan.
3.    Pengaruh sekolah pada perilaku anggotanya.
4.    Sekolah dalam komunitas,yang mempelajari pola interaksi antara sekolah dengan kelompok sosial lain di dalam komunitasnya.

B.     Kebudayaan dan pendidikan
Kebudayaan menurut taylor adalah totalitas yang komplek yang mencakup pengetahuan, kepercayaan, seni, hukum, moral, adat, dan kemampuan-kemampuan serta kebiasaan-kebiasaan yang diperoleh sebagai anggota masyarakat(Imran manam 1989).Sedangkan Kneller mengatakan kebudayaan adalah cara hidup yang telah dikembangkan oleh anggota-anggota masyarakat(Imran manam 1989).
Kebudayaan adalah suatu cara hidup yang berkembang yang  dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang dan di wariskan dari generasi kegenerasi.
Pembagian perkelompokan kebudayaan sebagai berikut:
1.      Kebudayaan umum,misalnya kebudayaan indonesia
2.      Kebudayaan daerah,misalnya kebudayaan jawa,bali,sunda,nusa tenggara timur,dll
3.      Kebudayaan populer suatu kebudayaan yang masa berlakunya rata-rata lebih pendek dari pada kedua macam kebudayaan terdahulu.misalnya lagu populer,model film musiman,model-model pakaian,dll
4.      Dari ketiga macam kebudayaan di atas mana yang patut diajarkan disekolah? Sebetulnya tiga macam kebudayaan itu pantas diajarkan disekolah, asalkan profesinya disesuaikan dengan waktu dan tempat yang jelas kebudayaan umum harus diajarkan pada semua sekolah. Sementara itu kebudayaan daerah dapat dikaitkan dengan kurikulum muatan lokal, jadi berbeda-beda disetiap daerah. Dan kebudayaan populer dapat juga diajarkan dengan proforsi yang kecil, sebab kebudayaan itu sedang mencuat, tentu disenangi anak-anak.
Ada tiga hal yang menimbulkan perubahan kebudayaan.ketiga perubahan tersebut menurut Kneller (imron manam)
1.      Originasi yaitu suatu yang baru atau penemuan-penemuan baru.Hasil penemuan ini akan menggeser atau memperbaharui yang lama.
2.      Difusi ialah pembentukan kebudayaan baru akibat masuknya elemen-elemen yang baru ke dalam budaya yang lama.
3.      Reyenterpretasi ialah perubahan-perubahan kebudayaan akibat terjadinya modifikasi elemen-elemen kebudayaan yang telah ada agar sesuai dengan keadaan zaman.
Kerber dan smith (imran manan, 1989) menyebutkan ada 6 fungsi utama kebudayaan dalam kehidupan manusia sebagai berikut :
1.      Penerus keturunan dan pengasuh anak
Suatu fungsi yang menjamin kelangsunag hidup biologis kelompok sosial.
2.      Pengembangan kehidupan berekonomi
Pendidikan sebagai budaya akan membuat orang mampu menjadi pelaku ekonomi yang baik, bisa berproduksi secara efektif dan efisien, dan mengembangkan bakat ekonomi dalam bidang tertentu.
3.      Transmisi budaya
Salah tugas pendidikan sebagai bagian dari kebudayaan adalah mampu membentuk dan mengembangkan generasi baru menjadi orang - orang dewasa yang berbudaya, terutama berbudaya nasional
4.      Meningkatkan iman dan takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa
Pendidikan sebagai budaya haruslah dapat anak – anak mengembangkan kata hati dan perasaannya taat terhadap ajaran – ajaran agama yang dipeluknya.
5.      Pengendalian sosial
Yaitu pelembagaan konsep – konsep untuk melindungi kesejahteraan individu dan kelompok.
6.      Rekreasi
Yaitu kegiatan – kegiatan yang memberi kesempatan kepada orang untuk memuaskan kebutuhanya akan permainan – permainan atau untuk bermain – main.

C.     Masyarakat dan Sekolah
Sekolah tidak dapat dipisahkan dari masyarakat, hal ini jelas karena :  
·      Sekolah milik masyarakat
·      Sekolah sebagai mercu penerang dan pusat kebudayaan
·      Sekolah bermanfaat bagi kemajuan budaya masyarakat, khususnya pendidikan anak-anak
·      Masyarakat memberi dukungan kepada sejumlah sekolah
·      Perlu ada badan kerjasama antara sekolah dengan masyarakat dalam menyukseskan pendidikan.
Lembaga pendidikan tidak dapat dipisahkan dengan masyarakat itu sendiri. Lembaga pendidikan ada di masyarakat hidup bersama-sama dengan warga masyarakat. Antara masyarakat dan sekolah saling membutuhkan. Masyarakat membutuhkan agar para siswa dan para remaja dibina di sekolah, sebaliknya sekolah membutuhkan agar masyarakat membantu kelancaran proses belajar di sekolah dengan memberikan berbagai macam pikiran dan fasilitas.
Lembaga pendidikan ibarat menara penerang, yaitu berada di masyarakat dan sekaligus memberi penerang kepada masyarakat setempat. Lembaga pendidikan harus tetap berakar pada masyarakat setempat, memperhatikan ide-ide masyarakat setempat, memanfaatkan fasilitas setempat untuk belajar, menyesuaikan diri dengan kebiasaan-kebiasaan hidup masyarakat setempat. Maka manfaat sekolah atau pendidikan bagi masyarakat adalah sebagai berikut:
1.      Pendidikan sebagai transmisi budaya dan pelestari pendidikan.
2.      Sekolah sebagai pusat budaya bagi masyarakat sekitarnya.
3.      Sekolah mengembangkan kepribadian anak di samping oleh keluarga anak itu sendiri.
4.      Pendidikan membuat orang menjadi warga negara yang baik, tahu akan kewajiban dan haknya.
5.      Pendidikan meningkatkan integrasi sosial atau kemampuan bermasyarakat.
6.      Pendidikan meningkatkan kemampuan menganalisis secara kritis, melalui pelajaran ilmu, teknologi, dan kesenian.
7.      Sekolah meningkatkan alat kontrol sosial dengan memberi pendidikan agam dan budi pekerti
8.       Sekolah membantu memecahkan masalah-masalah sosial.
9.      Pendidikan adalah sebagai perubah sosing baru melalui kebudayaan-kebudayaan yang baru.
10.  Pendidikan berfungsi sebagai seleksi dan alokasi tenaga kerja.
Hubungan yang erat antara sekolah dengan masyarakat karena saling membutuhkan satu dengan yang lain, membuat kemungkinan terbentuknya badan kerja sama yang relatif permanen. Badan kerja sama ini yang anggota-anggotanya adalah wakil-wakil orang tua siswa, para tokoh masyarakat, dan beberapa guru petugas membantu menyukseskanmisi pendidikan.


D.      Masyarakat Indonesia dan Pendidikan. 
              Sebagian besar masyarakat Indonesia sekarang sudah sadar akan pentingnya pendidikan untuk meningkatkan hidup dan kehidupan, asumsi mereka adalah makin tinggi ijazah yang dapat diraih makin cepat dapat pekerjaan serta makin besar gaji yang diterima.
       Tidak banyak yang menyadari (bahkan oleh pendidik sekalipun) bahwa kebudayaan termasuk pendidikan di masyarakat, adalah sarana/wadah yang penting dalam  proses pembelajaran untuk mengembangkan anak secara wajar , akibatnya perlu dilakukannya sejumlah pembenahan, antara lain :
a.  Kerjasama orang tua, masyarakat, dan pemerintah dalam memperbaiki pendidikan perlu ditingkatkan.
b.  Pendidikan nonformal dan  pendidikan informal, harus ditangani secara serius, paling sedikit sama intensitasnya dengan penanganan pendidikan jalur formal.
c.  Kebudayaan, terutama tayangan televisi, yang paling banyak pengaruhnya terhadap perkembangan anak dan remaja, perlu ditangani dengan baik agar tidak berdampak negatif.
d.  Kebudayaan-kebudayaan negatif yang lain perlu dihilangkan dengan berbagai cara.
Selanjutnya untuk membuat anak menjadi mandiri dan berkompetensi, yang sebetulnya juga merupakan cita-cita pendidikan yang telah digariskan, merupakan persoalan metodologi belajar dan mengajar. Bila dalam belajar mereka sering atau selalu dihadapkan pada masalah yang nyata terjadi di masyarakat dan diberi kesempatan untuk memecahkannya, tentu tujuan itu lama-lama akan tercapai. Untuk itu, dalam  masa transisi ini kalau pendidikan akan direorganisasi, perlu :
a.       Memasukkan materi pelajaran yang diambil dari keadaan nyata di masyarakat atau keluarga.
b.      Metode belajar yang mengaktifkan siswa baik individual maupun kelompok.
c.       Beberapa kali mengadakan survei di masyarakat tentang berbagai kebudayaan.
d.      Ikut memecahkan masalah masyarakat dan keluarga.
e.       Memberi kesempatan berinovasi atau kreatif menciptakan sesuatu yang baru.

E.     Implikasi konsep pendidikan
1.      Keberadaan sekolah tidak dapat dipisahkan dengan masyarakat sekitarnya, keduanya saling menunjang.
2.      Perlu dibentuk badan kerja sama antara sekolah dengan tokoh masyarakat, termasuk wakil-wakil orang tua siswa, untuk ikut memajukan pendidikan.
3.      Proses sosialisasi anak-anak perlu ditinggalkan
4.      Kebudayaan menyangkut seluruh cara hidup dan kehidupan manusia yang diciptakan oleh manusia ikut mempengaruhi pendidikan atau perkembangan anak.
5.      Akibat kebudayaan masa kini, ada kemungkinan pergeseran paradigma pendidikan, yaitu dari sekolah ke masyarakat luas dengan berbagai pengalaman yang luas.
















BAB III
PENUTUP
A.           Kesimpulan
Manusia adalah makhluk hidup yang diberikan berbagai potensi oleh Tuhan, setidaknya manusia diberikan panca indera dalam hidupnya. Mengingat begitu besar dan berharganya potensi yang dimiliki manusia, maka manusia harus dibekali dengan pendidikan yang cukup sejak dini. terjadi banyak perubahan dalam kehidupan masyarakat sebagai akibat dari era globalisasi. Dan pada kenyataannya masyarakat mengalami perubahan sosial yang begitu cepat, maju dan memperlihatkan gejala disintegratif yang meliputi berbagai sendi kehidupan dan menjadi masalah, salah satunya dirasakan oleh dunia pendidikan. Tak hanya perubahan sosial, budaya pun berpengaruh besar dalam dunia pendidikan akibat dari pergeseran paradigma pendidikan yaitu mengubah cara hidup, berkomunikasi, berpikir, dan cara bagaimana mencapai kesejahteraan. Dengan mengetahui begitu pesatnya arus perkembangan dunia diharapkan dunia pendidikan dapat merespon hal-hal tersebut secara baik dan bijak
B.     Saran
Landasan Sosial dan Budaya sangat diperlukan dalam kegiatan pendidikan guna mendukung kegiatan-kegiatan yang di lakukan dalam dunia pendidikan dan tidak hanya itu tanpa adanya sosial dan budaya yang berkembang dalam masyarakat suatu pendidikan tidak akan berhasil dan berjalan dengan lancar serta mengalami ketertinggalan zaman.


DAFTAR PUSTAKA
Pidarta, Made. 1997. Landasan Kependidikan. Stimulus Ilmu Pendidikan Bercorak Indonesia Jakarta : Rineka Cipta.
Landasan Sosial Budaya Pendidikan_Defauzan’s Blog.htm
http://landasan kependidikan dan prob/landasan social budaya pend/LANDASAN SOSIAL BUDAYA PENDIDIKAN_RahMaWaTi iNDaH LesTaRi.htm
Hesti, Joan.dkk.2013. Detik-detik Ujian Nasional Sosiologi.Klaten : Intan Pariwara.

1 komentar:

  1. Harrah's Resort Atlantic City - MapYRO
    View Harrah's Resort Atlantic City, including 진주 출장샵 road 평택 출장마사지 conditions, traffic updates, reviews and 청주 출장마사지 other driving directions to Harrah's Resort What time is check-in at Harrah's Resort Atlantic 구미 출장샵 City?How often does check-out at Harrah's Resort Atlantic 상주 출장샵 City take place?

    BalasHapus